Beternak Belut (2)


Di kawasan pantura Jawa, para nelayan juga biasa menjajakan belut asap masih dalam keadaan utuh maupun sudah berupa potongan. Masyarakat Jawa biasanya akan memasak belut ini dengan bumbu pedas. Mereka biasa menyebut bumbu semacam ini sebagai sambal goreng. Bumbunya antara lain cabai merah, bawang merah, bawang putih, lengkuas, daun salam, garam, gula merah, asam jawa dan santan. Rasa belut asap berkuah pedas di pedesaan Jawa bagian utara ini juga sangat lezat. Kalau belut yang dijajakan di Pantura Jawa ini memang benar-benar belut, tetapi belut laut.

Belut, famili Synbranchidae, memang dibedakan dengan sidat, famili Anguillidae. Perbedaan utama belut dengan sidat adalah, belut sama sekali tidak memiliki sirip, hingga tubuhnya mirip ular. Sedangkan sidat memiliki sepasang sirip. Masyarakat pedesaan di Jawa menyebut sirip sidat ini sebagai "telinga". Belut juga hanya disebut sebagai belut, sementara sidat memiliki banyak nama. Antara lain pelus, moa, uling, paling dan lubang, dengan variasi jenisnya yang juga sangat beragam. Belut hanya dibedakan menjadi tiga, yakni belut sawah (Monopterus albus), belut rawa atau belut kirai (Ophysternon bengelense) dan belut laut (Macrotema aligans).

Dari tiga macam belut tadi yang layak untuk dibudidayakan secara komersial hanyalah belut sawah. Pengertian budidaya dalam hal ini bisa hanya berarti pembesaran dengan benih yang diambil dari alam, atau berikut breedingnya (pemijahannya). Meskipun pemijahan belut masih dilakukan secara alamiah. Beda dengan sidat yang sudah bisa dipijahkan secara buatan. Selama ini masyarakat masih mengandalkan penangkapan belut ini dari sawah. Sebenarnya yang mereka tangkap itu bukanlah belut yang sudah layak konsumsi, melainkan "anak belut". Sebab ukurannya yang masih berdiameter kurang dari 1 cm, sementara panjangnya baru sekitar 20 cm. Belut-belut ini biasa digoreng kering sebagai "keripik belut" yang dikemas dalam plastik dan dijajakan sebagai oleh-oleh.

Padahal, anak-anak belut ini bisa dibesarkan hingga mencapai diameter 2,5 cm. dan panjang 30 cm. dalam jangka waktu sekitar 2 bulan. Kolam pembesaran belut sebaiknya berupa bak semen, agar belut tidak lari. Beda dengan kolam ikan, maka kolam belut lebih banyak berisi lumpur daripada air. Hingga kolam sedalam 60 cm. misalnya, hanya berisi air setinggi 5 sd. 10 cm. Selebihnya berupa lumpur. Lumpur ini bisa berupa lumpur asli tempat kolam itu dibangun, didatangkan dari sawah atau dibuat dengan membusukkan berbagai bahan organik. Meskipun kebutuhannya tidak banyak, namun tetap diperlukan sirkulasi air dari sumber sungai atau saluran air lainnya. Kolam ini juga bisa diberi tanaman air seperti padi, kangkung, genjer dll. hingga kesannya lebih alamiah.

Belut adalah jenis ikan carnivora. Hingga upaya pembesarannya mutlak memerlukan bahan pakan berupa daging atau telur. Bisa daging ayam dan itik mati, telur yang tidak menetas, ikan yang busuk dll. Hingga pembesaran belut paling tepat kalau diintegrasikan dengan peternakan ayam, itik atau ternak lainnya. Apabila pembesaran belut ini tidak terintegrasi dengan kegiatan peternakan lainnya, mereka tetap bisa dicarikan limbah peternakan atau pemotongan hewan. Baik pemotongan unggas, ternak ruminansia atau pemrosesan ikan dan udang. Cara pemberian pakan ini juga sangat mudah. Cukup telur yang tidak menetas atau ayam mati tersebut dibenamkan ke dalam lumpur. Ayam atau unggas lainnya cukup dibenamkan begitu saja, namun telur perlu direbus terlebih dahulu, baru kemudian dipecah dan dibenamkan ke dalam lumpur. Kecuali telur yang sudah menjadi anak dan siap menetas namun mati. Telur demikian cukup dipecah dan dibenamkan ke dalam lumpur. Selain diberi pakan limbah peternakan, belut juga bisa dibesarkan dengan pakan cacing, bekicot, siput dll.

Pakan buatan seperti pelet atau pakan buatan lainnya masih belum bisa digunakan dalam usaha pembesaran belut. Beda dengan sidat yang di Jepang sudah dipelihara secara modern dengan pakan buatan. Namun yang disebut sebagai pakan biatan inipun berupa adonan yang kenyal dan liat hingga mirip daging. Adonan yang terdiri dari bahan-bahan nutrisi lengkap berupa karbohidrat, protein nabati, hewani dan vitamin serta mineral ini diramu dan diolah hingga menjadi seperti dodol yang kalau dimasukkan ke dalam air tidak hancur. Begitu adonan pakan itu dimasukkan ke kolam, maka sidat-sidat itu akan segera mengerubutinya hingga dalam waktu sekejap akan termakan habis. Pemandangan di kolam-kolam pemeliharaan sidat di Jepang ini mirip dengan pemandangan di sungai Amazone, Brasil, ketika ikan piranha mengerubuti sapi atau monyet yang tercebur ke dalam air.

Pola pemberian pakan sidat seperti yang dilakukan di Jepang ini, masih belum bisa diterapkan untuk pemeliharaan belut di Indonesia. Sebab belut sawah kita masih merupakan belut liar yang berkembangbiak di alam bebas. Sementara sidat di Jepang sudah merupakan ikan budidaya 100%. Termasuk sudah dilakukan pemijahan buatan seperti halnya ikan mas. Hingga belut sawah kita memang hanya bisa dipelihara dengan cara setengah diliarkan. Meskipun demikian, semakin baik kualitas protein hewani yang dikonsumsi belut, tingkat pertumbuhannya juga akan semakin cepat. Pakan berupa ayam mati (seluruh bagian), hasilnya akan bisa menumbuhkan belut lebih cepat dibanding dengan pakan berupa usus ayam. Namun pemberian pakan usus ayam, hasilnya masih lebih baik dibanding pakan berupa cincangan bekicot.

Benih belut untuk dibesarkan bisa diperoleh dengan sangat mudah dari hasil penangkapan di sawah-sawah. Para penangkap belut ini biasanya menyetorkan hasil tangkapan mereka ke perajin "keripik belut". Dengan memberikan harga sedikit lebih tinggi, para penangkap belut ini pasti bersedia mengalihkan pasokan mereka dari perajin keripik ke pemelihara belut. Namun apabila pasokan benih tersebut sulit, maka bisa diupayakan melakukan pembenihan sendiri. Yang dimaksud sebagai pembenihan belut, masih belum seperti pembenihan ikan mas yang bisa dilakukan secara buatan. Hingga dalam breeding belut ini, peternak hanyalah membuat kondisi kolam pemeliharaan, hingga menjadi mirip dengan kondisi sawah tempat belut tersebut berpijah secara alamiah.

Belut termasuk jenis ikan, hingga proses perkawinannya disebut dengan istilah berpijah. Perkawinan ikan disebut secara khusus karena berbeda dengan hewan lainnya. Sebagaimana jenis ikan lainnya, induk betina belut akan mengeluarkan telurnya dan kemudian dibuahi oleh induk jantan. Proses ini terjadi di sarang yang dibangun oleh induk jantan. Secara alamiah, pada musim penghujan belut jantan akan mencari lokasi yang dangkal dan membuat sarang (lubang), berbentuk melengkung dengan dua "pintu". Jarak antar dua pintu lubang ini sekitar 1 m. Dari dalam sarang, belut jantan membuat gelembung udara hingga tercipta busa di salah satu pintu lubang. Ini merupakan upaya untuk menarik perhatian induk betina. Sambil menunggu datangnya induk betina, induk jantan menunggu di pintu lubang yang tidak diberi busa.

Induk betina yang datang akan menaruh telur di bawah gelembung busa, yang segera dibuahi oleh induk jantan. Setelah itu, induk jantan akan memindahkan telur-telur itu dengan mencaplok, membawanya ke dasar lubang lalu menyimpannya di sana. Variasi jumlah telur yang dihasilkan belut betina berkisar antara puluhan (induk kecil) sampai ribuan (induk yang besar). Telur yang tersimpan di sarang itu akan terus dijaga oleh induk jantan, dan baru akan menetas selang 10 hari setelah dibuahi. Anak-anak belut itu akan tetap diasuh oleh induk jantan sampai siap disapih pada umur 15 hari. Di atas umur 15 hari, anak-anak belut itu akan menyebar untuk membuat lubang serta mencari mangsa sendiri.

Agar kolam breeding bisa menghasilkan anak belut, harus diciptakan agar permukaannya persis sama seperti kondisi persawahan di Indonesia. Di pinggir ada tebing/pematang, di tengah ada bagian yang digenangi air dan penuh dengan tanaman. Di bagian tertentu dari sawah tersebut ada bagian yang dangkal dan hanya sedikit digenangi air. Pada musim penghujan, belut akan membuat sarang untuk bertelur di bagian yang dangkal ini. Anak-anak belut yang telah disapih akan tampak mirip dengan cacing. Mereka inilah yang harus dikumpulkan untuk dipelihara di kolam pembesaran dengan pakan berupa protein hewani. Dengan protein hewani cukup, dalam jangka waktu hanya dua sampai tiga bulan di kolam pemeliharaan, anak-anak belut itu sudah bisa dipanen dan dipasarkan dengan diameter 2,5 cm. dan panjang 35 cm.

Belut masih merupakan jenis ikan yang eksklusif karena ketersediannya di pasar terbatas. Keterbatasan pasokan belut, disebabkan oleh budidayanya yang masih belum banyak diketahui oleh masyarakat. Selama ini masyarakat lebih mengenal budidaya ikan mas, nila, gurami, lele dan patin (jambal siam). Sebab benih ikan-ikan tersebut sudah tersedia di mana-mana, teknologi budidayanya mudah dan pakannya berupa pelet juga tersedia. Namun dari segi keuntungan, membudidayakan belut bisa memperoleh marjin lebih baik. Caranya, peternak harus mencari langganan sumber limbah protein hewani. Bisa berupa ayam mati, telur yang tidak menetas, bekicot, cacing dll. Kalau limbah peternakan unggas sulit diperoleh, peternak bisa secara khusus mengkulturkan bekicot dan cacing untuk kebutuhan pakan.

No comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Popular Posts